
Mengenal Gangguan Passive-Aggressive dan Dampaknya – Gangguan passive-aggressive merujuk pada pola perilaku yang mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau penolakan secara tidak langsung. Alih-alih menyampaikan perasaan secara terbuka, individu dengan kecenderungan ini cenderung menunjukkan sikap sarkastik, menunda pekerjaan dengan sengaja, bersikap sinis, atau melakukan sabotase halus. Perilaku ini sering kali membingungkan orang lain karena pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan tindakan yang ditunjukkan.
Secara historis, istilah Passive-Aggressive Personality Disorder pernah tercantum dalam edisi awal Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Namun, dalam edisi terbaru, istilah tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai diagnosis resmi, melainkan lebih dipahami sebagai pola perilaku atau ciri kepribadian tertentu. Meski demikian, perilaku passive-aggressive tetap menjadi perhatian dalam psikologi klinis karena dampaknya terhadap hubungan interpersonal dan lingkungan kerja.
Beberapa ciri umum perilaku passive-aggressive antara lain:
-
Menunda tugas sebagai bentuk protes terselubung.
-
Memberikan pujian yang bernada sindiran.
-
Menghindari konflik langsung tetapi menunjukkan kemarahan melalui tindakan tidak kooperatif.
-
Bersikap keras kepala atau sengaja tidak efisien.
-
Mengeluh merasa tidak dihargai, tetapi enggan mengomunikasikan kebutuhan secara jelas.
Perilaku ini sering muncul akibat kesulitan dalam mengekspresikan emosi secara sehat. Individu mungkin tumbuh dalam lingkungan yang tidak mendorong komunikasi terbuka, sehingga mereka belajar menyembunyikan kemarahan dan menyalurkannya secara tidak langsung. Dalam jangka panjang, pola ini dapat menjadi kebiasaan yang mengganggu interaksi sosial.
Penting untuk membedakan antara perilaku passive-aggressive sesekali dengan pola yang menetap. Setiap orang mungkin pernah menunjukkan sikap pasif-agresif dalam situasi tertentu, misalnya ketika merasa tersinggung tetapi tidak ingin berkonfrontasi. Namun, jika pola tersebut terjadi secara konsisten dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, maka diperlukan perhatian lebih lanjut.
Dampak terhadap Hubungan dan Lingkungan Kerja
Perilaku passive-aggressive dapat berdampak signifikan terhadap hubungan pribadi maupun profesional. Dalam hubungan keluarga atau pasangan, sikap ini dapat menimbulkan kebingungan dan frustrasi. Pasangan mungkin merasa diperlakukan tidak adil atau tidak dihargai, tetapi sulit memahami akar permasalahannya karena konflik tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Di lingkungan kerja, perilaku passive-aggressive dapat menghambat produktivitas tim. Misalnya, seseorang yang tidak setuju dengan keputusan atasan mungkin tidak menyampaikan keberatan secara langsung, tetapi justru memperlambat pekerjaan atau tidak memberikan kontribusi maksimal. Sikap ini dapat merusak kepercayaan antaranggota tim dan menciptakan suasana kerja yang tidak kondusif.
Selain merugikan orang lain, individu dengan kecenderungan passive-aggressive juga dapat mengalami dampak psikologis. Menyimpan emosi negatif tanpa mengekspresikannya secara sehat dapat meningkatkan stres dan ketegangan internal. Dalam beberapa kasus, pola ini berkaitan dengan kecemasan atau depresi yang tidak tertangani.
Untuk mengatasi perilaku passive-aggressive, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran diri. Individu perlu mengenali pola perilaku dan memahami pemicu emosinya. Konseling atau terapi psikologis dapat membantu mengembangkan keterampilan komunikasi asertif, yaitu kemampuan menyampaikan pendapat dan perasaan secara jujur tanpa menyakiti orang lain.
Lingkungan sekitar juga berperan penting. Budaya komunikasi yang terbuka dan saling menghargai dapat mendorong individu untuk lebih berani menyampaikan perasaan secara langsung. Di tempat kerja, manajemen yang transparan dan ruang diskusi yang sehat dapat mengurangi kecenderungan munculnya perilaku pasif-agresif.
Selain itu, pelatihan manajemen emosi dan resolusi konflik dapat menjadi solusi preventif. Dengan belajar mengelola kemarahan dan kekecewaan secara konstruktif, individu dapat menghindari pola perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kesimpulan
Gangguan atau perilaku passive-aggressive merupakan pola ekspresi emosi negatif secara tidak langsung yang dapat memengaruhi hubungan sosial dan lingkungan kerja. Meskipun tidak lagi diklasifikasikan sebagai diagnosis resmi dalam DSM, pola ini tetap relevan dalam kajian psikologi karena dampaknya yang nyata.
Mengenali ciri-ciri dan memahami akar penyebabnya merupakan langkah awal untuk mengatasi perilaku ini. Melalui komunikasi asertif, pengelolaan emosi yang baik, dan dukungan lingkungan yang sehat, individu dapat membangun hubungan yang lebih terbuka dan harmonis. Dengan demikian, konflik dapat diselesaikan secara konstruktif tanpa perlu disampaikan melalui sikap pasif-agresif.